Emas.id – Bicara tentang kelebihan dan kekurangan investasi emas. Investasi emas mempunyai sejumlah nilai unggul. Produk dan opsi investasinya bisa beragam dan menyesuaikan modal, secara umum pajak dan regulasinya pun lebih mudah dari aset lainnya. Emas diinvestasikan untuk melindungi nilai saat perekonomian tidak stabil, meraup keuntungan saat terjadi inflasi, menghindari risiko dari performa pihak ketiga, dan lainnya.
Walaupun begitu, investasi emas tidak selamanya aman dan menguntungkan bagi para investornya. Ada aspek mekanisme, operasional, pasar, keadaan ekonomi dan geopolitik global, serta perilaku yang berisiko untuk investasi emas. Jadi, ayo cermati dulu bagaimana plus-minusnya. Kira-kira, apa saja hal-hal yang menjadi kekurangan investasi emas?
Kenaikan Harganya Lambat
Memang betul bahwa emas mempunyai nilai yang relatif stabil dan bisa dijadikan aset pelindung nilai saat kondisi perekonomian sedang tidak pasti. Tapi ketika keadaan membaik, peluang profit dari investasi emas bisa berkurang karena kenaikan harganya cenderung akan melambat ataupun menurun.
Waktu kondisi ekonomi sedang stabil atau baik-baik saja, tingkat kepercayaan para investor bisa meningkat. Pada momen tersebut, mereka punya kecondongan untuk berinvestasi pada aset semisal saham ataupun obligasi yang risikonya lebih tinggi. Permintaan terhadap emas pun menurun sehingga harganya melemah.
Berkaitan dengan lambatnya kenaikan harga emas, investasi emas bisa mulai terlihat menguntungan dalam jangka panjang. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena dari tahun ke tahun harga emas trennya terus meningkat. Boleh jadi butuh 5-10 tahun bagi investor untuk mempertahankan investasinya supaya mendapat keuntungan signifikan.
Bukan Penghasil Pendapatan Pasif
Mekanisme investasi pada aset emas adalah tidak bisa secara rutin menghasilkan keuntungan. Emas yang diinvestasikan baru bisa mendatangkan profit saat dijual pada harga yang lebih mahal saja. Emas tidak sama dengan aset investasi semisal saham atau obligasi yang mampu mendatangkan pendapatan pasif.
Pendapatan pasif dari saham yaitu berbentuk dividen atau pembagian laba dari pendapatan perusahaan. Adapun pendapatan pasif dari obligasi yaitu berupa bunga yang dibayarkan kepada investor secara berkala baik setiap triwulan, setiap enam bulan, atau setiap tahun. Emas sendiri tidak bisa menghasilan pendapatan seperti itu.
Investor emas tidak bisa mendapatkan penghasilan rutin seperti pendapatan berupa dividen dari investasi saham, bunga dari investasi obligasi, atau sewa dari investasi properti. Nilai emas sebagai logam mulia bergantung pada perubahan harga pasar. Oleh sebab itu, profit investasi emas baru bisa diperoleh dari capital gain atau kenaikan harga.
Berdampak Minim Pada Ekonomi Riil
Ada beberapa alasan mengapa kontribusi yang minim terhadap ekonomi riil menjadi kekurangan investasi emas. Pertama, investasi emas beserta keuntungannya lebih ditujukan bagi kepentingan pribadi. Orang-orang lebih banyak menyimpan emas buat keperluan sendiri daripada mengedarkannya untuk menggerakkan aktivitas perekonomian.
Lalu, emas bukan komponen utama produksi barang dan jasa. Pemanfaatannya dalam skala industri pun terbatas. Berbeda dengan bahan baku semisal minyak bumi, besi dan baja, gas alam, ataupun produk kehutanan yang berdampak pada ekonomi riil, artinya komoditas yang sangat dibutuhkan dan berpengaruh dalam aktivitas produksi, konsumsi, hingga investasi.
Kemudian, emas dianggap bukan investasi yang produktif. Sifat asetnya tidak mendatangkan pendapatan pasif dan tidak berkontribusi aktif pada pertumbuhan ekonomi layaknya properti, obligasi, dan saham. Emas lebih dominan dijadikan aset penyimpan nilai untuk mengamankan kekayaan daripada untuk membiayai aktivitas produktif.
Kekurangan Investasi Emas: Biaya Spread Tinggi
Kekurangan investasi emas yaitu biaya transaksinya lebih tinggi dari investasi lain, misalnya saham dan obligasi. Biaya transaksinya yakni berbentuk spread atau selisih dari harga penjualan dan harga pembelian. Spread bisa memangkas keuntungan terlebih jika buyback dilakukan dalam jangka pendek ataupun dalam transaksi kecil.
Biaya transaksi utama saham yang dialokasikan pada broker, bursa, dan kustodian sejumlah 0,1-0,3% per transaksi. Adapun biaya transaksi utama obligasi dengan alokasi pada broker, kustodian, dan admin senilai 0,1-0,5% per transaksi. Sementara itu, biaya transaksi utama emas mencapai 2-10% untuk spread dan 0,5-2% untuk dana penyimpanan per tahun.
Investasi emas butuh waktu lama dan kurang sesuai untuk jangka pendek. Selain tidak mendatangkan pendapatan pasif, biaya transaksi dari segi spread dan dana penyimpanannya juga lebih tinggi dari aset investasi lain. Buat mengoptimalkan keuntungan dengan spread yang nilainya kecil, bisa lakukan buyback atau penjualan kembali ketika harganya sedang tinggi.
Manfaat Diversifikasinya Terbatas
Walau emas adalah aset yang cenderung tahan dan aman terhadap inflasi atau krisis, tapi memokuskan investasi pada emas saja akan membuat portofolio tidak terdiversifikasi. Beberapa hal yang menjadi alasan emas merupakan aset investasi yang manfaat diversifikasinya terbatas dalam portofolio di antaranya:
1. Investasi emas yang tidak mampu mendatangkan penghasilan pasif bisa menyulitkan diversifikasi sumber keuntungan. Terlebih emas juga masih memerlukan biaya penyimpanan yang bisa mengurangi profit.
2. Meski emas dianggap aset yang aman, tapi korelasinya dengan aset lain tidak selalu bertolak belakang. Emas sebagai alat diversifikasi bisa jadi tidak efektif ketika semua aset merosot bersamaan.
3. Risiko volatilitas dalam investasi emas dapat terlihat dari fluktuatifnya harga emas dalam jangka pendek serta bisa terpengaruh oleh sentimen pasar, kebijakan moneter, dan kondisi geopolitik.
4. Kekurangan investasi emas fisik terlebih yang bentuknya batangan yaitu likuiditasnya lebih rendah dari aset lainnya. Pembeli emas batangan jumlahnya terbatas, proses penjualan emas batangan pun lebih lambat dan bisa mempunyai spread tinggi.
5. Emas bukan aset investasi produktif yang bisa membantu bertumbuhnya ekonomi secara riil. Investasi emas tidak mendukung proses produksi dan tidak mendatangkan penghasilan seperti bunga, dividen, ataupun pendapatan lainnya.
Dalam menangani risiko investasi emas, perlu ada aset lain untuk mejaga investasi tetap stabil. Sejumlah aset yang dapat digunakan untuk mendukung diversifikasi portofolio yang baik misalnya saham, obligasi, properti, dan sebagainya. Aset-aset tersebut diharapkan bisa menjadi pelindung yang saling melengkapi dan setidaknya mengurangi risiko kerugian.
Kekurangan Investasi Emas: Berisiko Kehilangan

Sebagai barang berharga, emas perlu dijaga dengan baik karena risiko kehilangannya yang cukup besar. Investasi emas batangan ataupun emas perhiasan membutuhkan tempat penyimpanan yang aman. Entah penjagaan atau penyimpanan tersebut dilakukan secara mandiri maupun mengandalkan jasa pihak profesional.
Investor dapat menyimpan emasnya di rumah secara tersembunyi dalam brankas pribadi yang material dan kuncinya sudah tersertifikasi keamanannya. Pasang teralis dan kunci yang kokoh untuk jendela dan pintu, ditambah CCTV dan alarm keamanan untuk memantau segala pergerakan. Waspada terhadap lingkungan sekitar terlebih saat meninggalkan rumah.
Jika ingin lebih aman, simpan emas batangan maupun emas perhiasan di bank konvensional, bank syariah, atau pegadaian dalam safe deposit box dengan biaya dan syarat yang bervariasi. Bila perlu, asuransikan emasnya pada perusahaan asuransi yang kredibel. Amankan dokumentasi nomor seri, tanda khusus, dan bukti kepemilikan lainnya secara digital dan fisik.
Kesimpulannya, di samping melihat kelebihannya, investor pun harus mencermati kekurangan investasi emas sebelum menekuninya. Menginvestasikan emas perlu waktu relatif lama untuk memaksimalkan keuntungannya. Penting juga bagi investor untuk siap menangani risiko pembiayaan dan keamanannya, serta memiliki kemauan untuk mengelola diversifikasi portofolio supaya investasinya lebih stabil atau terkendali.






